Eksistensi Sanggar Budaya di Tengah Hiruk Pikuk Desa Pananjung, Pangandaran
Di tengah riuhnya lalu-lalang pelancong dari berbagai daerah, terdapat sanggar budaya yang mencolok di sudut jalan area Lapang Merdeka, Desa Pananjung. Gerai Desa Wisata Pananjung adalah nama sanggar tersebut. Pemiliknya dikenal dengan nama Pak Kuat. Beliau merupakan salah satu seniman yang masih aktif berkesenian di Desa Pananjung. Alat musik tradisional yang ada di sanggar tersebut juga cukup beragam, terdapat perkusi, angklung, arumba, gong, kecrek, dan lainnya yang dapat dimanfaatkan bersama oleh masyarakat sekitar, termasuk para mahasiswa yang berkegiatan di desa Pananjung.
Saat ini, Desa Pananjung kedatangan mahasiswa yang sedang melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Dengan latar belakang pendidikan seni dan budaya, kedatangan sejumlah mahasiswa dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung ke sanggar Gerai Desa Wisata Pananjung juga disambut dengan hangat oleh Pak Kuat. Para mahasiswa bahkan sempat berkolaborasi dalam latihan rutin yang diadakan oleh Pak Kuat di sanggarnya. Melalui alunan musik, nyanyian, dan tarian bersama, terciptalah suasana yang hangat dan penuh kebersamaan.
Kolaborasi antara mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung dan Pak Kuat di Gerai Desa Wisata Pananjung menjadi bukti nyata bahwa seni dapat menjadi jembatan penghubung antara perbedaan latar belakang dan generasi. Harapannya, kolaborasi ini bukan hanya menjadi program kerja Kuliah Kerja Nyata (KKN) sesaat, tetapi menjadi langkah awal yang dapat menciptakan rasa tanggung jawab bersama untuk ikut serta dalam menjaga, melestarikan, dan memupuk kembali nilai-nilai budaya lokal di era gempuran wisata modern Pangandaran.
Penulis: Maria Artauli Sitorus
KKN ISBI BANDUNG
Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin